Jumat, 08 Februari 2013 08:47 WIB

Kawasah Hutan Lindung TNTN Multi Konflik

E-mail Cetak PDF
Share

Kawasan Hutan Lindung Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan, Riau, memiliki multi konflik atau banyak persolaan yang sering muncul ke permukaan, mulai masalah sengketa lahan sampai kepada pembunuhan hewan yang dilindungi terutama gajah liar. Menteri Kehutanan Ir. H. Zulkifli Hasan, SE, MM, berjanji mencari solusi dari berbagai konflik yang muncul tersebut.

Usaha mencari solusi dari konflik tersebut disampaikan menhut kepada masyarakat pada acara peletakan batu pertama pembangunan Pusat Konservasi Gajah (PKG) di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Dikatakan, pihaknya akan memperhatikan keluhan yang disampaikan masyarakat berkaitan dengan konflik yang terjadi di kawasan TNTN. Tidak hanya konflik manusia dengan kawasan terlarang tersebut, tetapi juga konflik manusia dengan gajah sebagai binatang dilindungi.

"Kita akan carikan solusi yang menguntungkan semua pihak, termasuk penyelamatan hutan, flora dan faunanya," ujar menteri yang berasal dari PAN tersebut.

Kawasan TNTN memang masih meninggalkan konflik.  Kawasan ini awalnya tahun 2004 hanya memiliki luas 38.000 hektar, namun tahun 2009 diperluas menjadi 83.000 hektar setelah berakhirnya HPH sejumlah perusahaan. 

Tahun 2007, ada 2.400 KK mendiami kawasan tersebut.  Sekarang jumlahnya tak terkendali dan para pendatang tersebut umumnya membuka kebun sawit. Persoalan ini yang akan diselesaikan dalam tiga bulan ke depan.

Di sisi lain, TNTN juga daerah konservasi gajah. Namun, tahun 2012 telah mati 12 ekor gajah akibat konflik dengan masyarakat. Konflik ini yang akan diselamatkan dengan pembangunan PKG.

"Manusia punya hak azazi manusia, tumbuhan punya hak azazi tumbuhan. Gajah juga punya hak azazi gajah. Sebagai ciptaan Allah, kita sama-sama memperhatikannnya," ujar Menhut.(rls)